Prang!
Terdengar suara gelas pecah dari ruang tamu. Saya langsung berlari ke sana dan mendapati anak saya sedang diangkat oleh kakeknya agar tak menginjak pecahan gelas. Si pemecah gelas itu baru berusia 11 bulan, jadi aman dari omelan orang dewasa di sekitarnya, xixixi…. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 4 pagi dan bayi saya sukses membangunkan kakeknya yang baru lelap tidur sehabis menonton bola. Si kakek malah sibuk membereskan pecahan gelas, padahal mestinya saya yang bertanggung jawab memberesinya. Saya mencoba membantu dengan membuang pecahan gelas yang besar-besar, tapi bapak mertua malah menyuruh untuk menjaga bayi saja. Kejadian pecah gelas itu gara-gara saya sedang membuat susu di dapur dan tak menyingkirkan gelas yang ada di meja dengan ukuran yang mudah dijangkau oleh bayi yang sedang belajar merambah-rambah.
“Tadi pecahan gelasnya dibuang ke mana?” tanya bapak mertua.
“Ke tong sampah,” jawab saya.
“Buangnya dimasukin ke plastik gak?”
“Enggak…..”
Saya memang cenderung cuek, lagipula itu pecahan gelas yang besar-besar, kayaknya gak perlu dimasukin ke plastik. Eh, bapak mertua buru-buru ke tempat sampah di dapur dan mengambil kembali pecahan gelas itu lalu memasukkannya ke dalam plastik.
“Harus dimasukin ke dalam plastik, kasihan nanti tukang sampahnya, belingnya berceceran atau tangannya bisa kena beling sewaktu memindahkan pecahan ini…..”
Saya tertegun mendengarkan omongan bapak mertua. Segitu perhatiannya beliau sampai memikirkan efek pecahan gelas yang berhamburan terhadap tukang sampah. Sementara saya sama sekali tak memikirkannya. Ah, biar saja, itu urusan tukang sampah. Teledor sekali ya? Sama juga sewaktu saya menonton tips membuang bekas diapers bayi di televisi. Diapers harus digulung agar isi di dalamnya tidak tumpah ke mana-mana, tetapi saya sering melihat di toilet mall, diaper bekas dibiarkan menganga sampai isinya terlihat. Atau, kotoran orang dewasa yang tidak disiram sampai bersih di toilet umum, dan segala keteledoran lain yang merugikan orang lain. Kita sering kali menyenangkan diri sendiri, gak mau repot, tanpa memikirkan akibatnya kepada orang lain. Yang penting urusan kita sudah beres, biarlah orang yang akan menanggung akibatnya.
Subuh itu, saya mendapatkan pelajaran lagi dari bapak mertua. Pelajaran yang sebenarnya sudah saya pahami sejak dulu, sejak membaca sebuah hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, “Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, ‘barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.’” (HR.Muslim)
Jalan ke surga itu sebenarnya mudah saja. Banyak amalan kecil yang bisa mengantarkan kita ke surga, salah satunya adalah memudahkan urusan orang lain. Contohnya ya seperti yang dilakukan oleh bapak mertua saya itu. Beliau mengumpulkan sampah beling ke dalam plastik yang diikat, agar sampahnya tidak berceceran sehingga nanti tukang sampah tidak kesulitan mengangkut beling-beling itu. Secara tak sadar, kita banyak diberi kesempatan oleh Allah untuk melakukan amalan-amalan surga, tetapi tak menyadarinya. Misalnya kalau ada yang bertanya jalan, ban pecah, pinjam uang buat makan, dan sebagainya.
Saya memang melihat sepertinya hidup bapak mertua itu mudah saja, tak ada kesulitan yang berarti. Semua anaknya sukses, lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan bergengsi. Urusan jodoh juga lancar-lancar. Barangkali itu berkah yang diterimanya karena sering memudahkan urusan orang lain, bahkan saat saya luput memikirkannya, seperti urusan sampah beling itu.Semua kebaikan yang kita lakukan, akan berpulang kepada kita. Begitu juga kalau kita berbuat jahat, suatu ketika kita akan mendapatkan akibat dari perbuatan itu.
Ingin hidup lebih mudah? Mudahkanlah urusan orang lain!
“Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri.” (Quran Surat Al Isra: 7)
Terdengar suara gelas pecah dari ruang tamu. Saya langsung berlari ke sana dan mendapati anak saya sedang diangkat oleh kakeknya agar tak menginjak pecahan gelas. Si pemecah gelas itu baru berusia 11 bulan, jadi aman dari omelan orang dewasa di sekitarnya, xixixi…. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 4 pagi dan bayi saya sukses membangunkan kakeknya yang baru lelap tidur sehabis menonton bola. Si kakek malah sibuk membereskan pecahan gelas, padahal mestinya saya yang bertanggung jawab memberesinya. Saya mencoba membantu dengan membuang pecahan gelas yang besar-besar, tapi bapak mertua malah menyuruh untuk menjaga bayi saja. Kejadian pecah gelas itu gara-gara saya sedang membuat susu di dapur dan tak menyingkirkan gelas yang ada di meja dengan ukuran yang mudah dijangkau oleh bayi yang sedang belajar merambah-rambah.
“Tadi pecahan gelasnya dibuang ke mana?” tanya bapak mertua.
“Ke tong sampah,” jawab saya.
“Buangnya dimasukin ke plastik gak?”
“Enggak…..”
Saya memang cenderung cuek, lagipula itu pecahan gelas yang besar-besar, kayaknya gak perlu dimasukin ke plastik. Eh, bapak mertua buru-buru ke tempat sampah di dapur dan mengambil kembali pecahan gelas itu lalu memasukkannya ke dalam plastik.
“Harus dimasukin ke dalam plastik, kasihan nanti tukang sampahnya, belingnya berceceran atau tangannya bisa kena beling sewaktu memindahkan pecahan ini…..”
Saya tertegun mendengarkan omongan bapak mertua. Segitu perhatiannya beliau sampai memikirkan efek pecahan gelas yang berhamburan terhadap tukang sampah. Sementara saya sama sekali tak memikirkannya. Ah, biar saja, itu urusan tukang sampah. Teledor sekali ya? Sama juga sewaktu saya menonton tips membuang bekas diapers bayi di televisi. Diapers harus digulung agar isi di dalamnya tidak tumpah ke mana-mana, tetapi saya sering melihat di toilet mall, diaper bekas dibiarkan menganga sampai isinya terlihat. Atau, kotoran orang dewasa yang tidak disiram sampai bersih di toilet umum, dan segala keteledoran lain yang merugikan orang lain. Kita sering kali menyenangkan diri sendiri, gak mau repot, tanpa memikirkan akibatnya kepada orang lain. Yang penting urusan kita sudah beres, biarlah orang yang akan menanggung akibatnya.
Subuh itu, saya mendapatkan pelajaran lagi dari bapak mertua. Pelajaran yang sebenarnya sudah saya pahami sejak dulu, sejak membaca sebuah hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, “Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, ‘barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.’” (HR.Muslim)
Jalan ke surga itu sebenarnya mudah saja. Banyak amalan kecil yang bisa mengantarkan kita ke surga, salah satunya adalah memudahkan urusan orang lain. Contohnya ya seperti yang dilakukan oleh bapak mertua saya itu. Beliau mengumpulkan sampah beling ke dalam plastik yang diikat, agar sampahnya tidak berceceran sehingga nanti tukang sampah tidak kesulitan mengangkut beling-beling itu. Secara tak sadar, kita banyak diberi kesempatan oleh Allah untuk melakukan amalan-amalan surga, tetapi tak menyadarinya. Misalnya kalau ada yang bertanya jalan, ban pecah, pinjam uang buat makan, dan sebagainya.
Saya memang melihat sepertinya hidup bapak mertua itu mudah saja, tak ada kesulitan yang berarti. Semua anaknya sukses, lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan bergengsi. Urusan jodoh juga lancar-lancar. Barangkali itu berkah yang diterimanya karena sering memudahkan urusan orang lain, bahkan saat saya luput memikirkannya, seperti urusan sampah beling itu.Semua kebaikan yang kita lakukan, akan berpulang kepada kita. Begitu juga kalau kita berbuat jahat, suatu ketika kita akan mendapatkan akibat dari perbuatan itu.
Ingin hidup lebih mudah? Mudahkanlah urusan orang lain!
“Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri.” (Quran Surat Al Isra: 7)