Kamis, 10 Juli 2014

Easy Life


Prang!
Terdengar suara gelas pecah dari ruang tamu. Saya langsung berlari ke sana dan mendapati anak saya sedang diangkat oleh kakeknya agar tak menginjak pecahan gelas. Si pemecah gelas itu baru berusia 11 bulan, jadi aman dari omelan orang dewasa di sekitarnya, xixixi…. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 4 pagi dan bayi saya sukses membangunkan kakeknya yang baru lelap tidur sehabis menonton bola. Si kakek malah sibuk membereskan pecahan gelas, padahal mestinya saya yang bertanggung jawab memberesinya. Saya mencoba membantu dengan membuang pecahan gelas yang besar-besar, tapi bapak mertua malah menyuruh untuk menjaga bayi saja. Kejadian pecah gelas itu gara-gara saya sedang membuat susu di dapur dan tak menyingkirkan gelas yang ada di meja dengan ukuran yang mudah dijangkau oleh bayi yang sedang belajar merambah-rambah.
“Tadi pecahan gelasnya dibuang ke mana?” tanya bapak mertua.
“Ke tong sampah,” jawab saya.
“Buangnya dimasukin ke plastik gak?”
“Enggak…..”
Saya memang cenderung cuek, lagipula itu pecahan gelas yang besar-besar, kayaknya gak perlu dimasukin ke plastik. Eh, bapak mertua buru-buru ke tempat sampah di dapur dan mengambil kembali pecahan gelas itu lalu memasukkannya ke dalam plastik.
“Harus dimasukin ke dalam plastik, kasihan nanti tukang sampahnya, belingnya berceceran atau tangannya bisa kena beling sewaktu memindahkan pecahan ini…..”
Saya tertegun mendengarkan omongan bapak mertua. Segitu perhatiannya beliau sampai memikirkan efek pecahan gelas yang berhamburan terhadap tukang sampah. Sementara saya sama sekali tak memikirkannya. Ah, biar saja, itu urusan tukang sampah. Teledor sekali ya? Sama juga sewaktu saya menonton tips membuang bekas diapers bayi di televisi. Diapers harus digulung agar isi di dalamnya tidak tumpah ke mana-mana, tetapi saya sering melihat di toilet mall, diaper bekas dibiarkan menganga sampai isinya terlihat. Atau, kotoran orang dewasa yang tidak disiram sampai bersih di toilet umum, dan segala keteledoran lain yang merugikan orang lain. Kita sering kali menyenangkan diri sendiri, gak mau repot, tanpa memikirkan akibatnya kepada orang lain. Yang penting urusan kita sudah beres, biarlah orang yang akan menanggung akibatnya.
Subuh itu, saya mendapatkan pelajaran lagi dari bapak mertua. Pelajaran yang sebenarnya sudah saya pahami sejak dulu, sejak membaca sebuah hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, “Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, ‘barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.’” (HR.Muslim)
Jalan ke surga itu sebenarnya mudah saja. Banyak amalan kecil yang bisa mengantarkan kita ke surga, salah satunya adalah memudahkan urusan orang lain. Contohnya ya seperti yang dilakukan oleh bapak mertua saya itu. Beliau mengumpulkan sampah beling ke dalam plastik yang diikat, agar sampahnya tidak berceceran sehingga nanti tukang sampah tidak kesulitan mengangkut beling-beling itu. Secara tak sadar, kita banyak diberi kesempatan oleh Allah untuk melakukan amalan-amalan surga, tetapi tak menyadarinya. Misalnya kalau ada yang bertanya jalan, ban pecah, pinjam uang buat makan, dan sebagainya.
Saya memang melihat sepertinya hidup bapak mertua itu mudah saja, tak ada kesulitan yang berarti. Semua anaknya sukses, lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan bergengsi. Urusan jodoh juga lancar-lancar. Barangkali itu berkah yang diterimanya karena sering memudahkan urusan orang lain, bahkan saat saya luput memikirkannya, seperti urusan sampah beling itu.Semua kebaikan yang kita lakukan, akan berpulang kepada kita. Begitu juga kalau kita berbuat jahat, suatu ketika kita akan mendapatkan akibat dari perbuatan itu.
Ingin hidup lebih mudah? Mudahkanlah urusan orang lain!
“Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri.” (Quran Surat Al Isra: 7)

Wanita Banyak Anak, Dijamin Masuk Surga?


Apa benar begituuuu?
Kalimat di atas itu adalah kalimat pertanyaan lho ya, bukan pernyataan. Memangnya masuk surga itu ditentukan oleh saya? Beberapa waktu lalu, saya membaca timeline seorang teman tentang kalimat di atas. Katanya dia mendengar ceramah seorang ustaz bahwa wanita yang beranak banyak, dijamin masuk surga. Jleb. Mau gak mau, saya sedikit berbinar-binar. Terus, saya ceritakan soal itu ke suami. Kata suami, “Mama sih anaknya belum banyak. Baru juga tiga….” Yaaaaaah…..
Anak banyak itu mungkin antara 6 sampai tak terbatas ya? Xixixixi… Setelah lebaran, saya sowan ke rumah orang tua adik ipar dan ibunya cerita kalau dia itu memiliki 20 saudara. Dengan kata lain, ibunya memiliki 20 anak! Semua itu anak kandung, lho… Lahir dari rahim sendiri. Subhanallah! Gimana mengurusnya, ya?
Saya mencoba menganalisa, bagaimana seorang wanita yang beranak banyak itu bisa masuk surga? Rasanya saya belum pernah mendengar ada ayat Al Quran atau hadis yang menyebutkannya. Saya hanya mengetahui hadis ini, dari kitab Bulugul Maram, hadist no. 995, Anas Ibn Malik Radiyallahu’anhu berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kami berkeluarga dan melarang kami membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak, aku akan berbangga-bangga di hadapan para Nabi di hari kiamat.” Riwayat Ahmad. Hadist Shahih.
Pertama, banyak anak berarti sering hamil dan melahirkan, sementara kedua aktivitas itu dinilai sebagai jihad seorang wanita. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, “Orang yang terbunuh fii sabilillah adalah syahid, orang yang mati karena penyakit perut adalah syahid, orang yang mati tenggelam adalah syahid, wanita yang mati karena melahirkan adalah syahid, dan orang yang mati karena wabah kolera adalah syahid.”
Kedua, banyak anak berarti banyak pahala dari merawat dan mendidik anak. Jangankan anak 6, anak 3 saja, saya sudah kewalahan karena mengasuh sendiri. Apalagi usia anak-anak berdekatan dan yang tertua usianya tak lebih dari 6 tahun. Gimana yang anaknya hanya terpaut usia setahun?Tentu ibu harus banyak berkorban waktu dan tenaga, dan setiap pengorbanan tak akan sia-sia.
Ketiga, banyak anak yang soleh berarti banyak tabungan amal yang tak terputus sampai hari kiamat. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, “Jika anak Adam meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali tiga: sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa dari anak yang soleh.” (HR. Muslim).
Syarat dan Ketentuan Berlaku
Semua orang memiliki kesempatan untuk masuk surga, termasuk wanita yang banyak anaknya. Tapi tentu kita tak bisa begitu saja masuk surga. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipatuhi, termasuk untuk wanita beranak banyak. Dengan banyaknya anak, lalu dia jadi sulit beribadah wajib (solat, puasa), apakah dia masih bisa masuk surga? Wallahu’alam. Apa semua anaknya itu kelak menjadi anak soleh atau justru sampah masyarakat? Anak banyak atau tidak, yang paling utama adalah bagaimana mendidik anak itu menjadi anak yang soleh dan kelak mendoakan kedua orang tuanya agar masuk surga. Dan hanya 10 jempol yang bisa saya berikan kepada wanita beranak banyak, lalu semua anaknya menjadi anak yang soleh. Subhanallah! Luar biasa wanita yang seperti itu. Apakah ada? Ini saya kasih contohnya:
Ibu Wirianingsih, istri dari Mutammiul Ula, anggota DPR RI, memiliki 10 anak dan semuanya HAFAL AL QURAN. Tak hanya itu, ibu Wirianingsih juga sibuuuuk… banyak aktivitas selain menjadi ibu rumah tangga, tapi masih sempat mengajari anak-anaknya membaca dan menghafal Al Quran. Dan anaknya itu bukan satu, melainkan SEPULUH.
Anak-Anak Ibu Wirianingsih
Anak-Anak Ibu Wirianingsih
Almarhum Ibu Yoyoh Yusroh, seorang wanita yang semasa hidupnya aktif di DPR RI, memiliki 13 orang anak! Dan semuanya, insya Allah soleh. Bahkan ada yang hafal Quran. Semoga saya bisa meneladani kedua ibu hebat ini. Saya jadi malu. Baru tiga anak saja sudah ngeluh melulu.
Almarhum Ibu Yoyoh dan anak-anaknya
Almarhum Ibu Yoyoh dan anak-anaknya

Tes Keperawanan

Tes
Tes
Kalau menurut KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia), kehormatan itu artinya kesucian wanita. Sedangkan kata perawan (juga dalam KUBI), atau virgin (dalam bahasa Inggris), maupun bikr (dalam bahasa Arab), artinya seseorang yang belum pernah disentuh atau belum pernah menikah dan belum pernah berhubungan intim dengan lawan jenis maupun sesama jenis.
Kata perawan dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan kata gadis yang mempunyai arti yang sama. Namun jika diteliti, ternyata kata gadis tersebut berasal dari bahasa Arab yang berarti suci. Jadi, keperawanan adalah lambang kesucian dari seorang wanita. Dan kesuciannya tersebut, akan menentukan kehormatannya di mata Allah dan masyarakat. Jadi, memang tidak bisa disangkal kalau kehormatan kita diukur dari keperawanan.
Banyak yang beranggapan bahwa keperawanan ditandai dengan utuhnya selaput dara. Mitos yang berkembang mengatakan bahwa keperawanan seorang cewek bisa diketahui dari berdarah atau tidaknya cewek itu ketika berhubungan seks pertama kali. Katanya, keluarnya darah itu disebabkan oleh selaput dara yang robek. Sehingga, kalau kalau kita tidak berdarah ketika berhubungan seks pertama kali, berarti kita sudah tidak perawan. Seperti curhat seorang mbak kita di bawah ini:
Saya baru saja menikah. Ketika berhubungan seks pertama kali dengan suami, kok saya nggak berdarah ya? Padahal saya yakin belum pernah berhubungan seks dengan siapa pun. Saya berani bersumpah bahwa saya masih perawan. Tapi, suami saya nggak percaya. Ia menanyai saya macam-macam dan meragukan keperawanan saya. Hubungan kami jadi nggak enak, nggak seperti pengantin baru para umumnya. Kenapa ya saya nggak berdarah? Saya yakin bahwa saya masih perawan sebelum berhubungan seks dengan suami. (K, Jakarta)
Waaah cuma karena urusan darah saja, hubungan suami-istri bisa jadi renggang begitu. Padahal, anggapan itu tidak selalu benar, lho. Sebelum menjelaskan tentang kenapa Mbak K di atas tidak berdarah ketika malam pertama, padahal merasa masih perawan, kita cari tahu dulu apa sih selaput dara itu.
Jadi begini, vagina (alat kelamin) cewek berbentuk liang memanjang yang dindingnya terdiri atas lipatan-lipatan mukosa sehingga mampu meregang bahkan sampai dapat dilewati kepala bayi. (Subhanallah, ajaib banget ya?). Di mulut vagina tersebut, terdapat satu lapis mukosa yang agak tebal dan melingkari mulut vagina tersebut. Nah, lapisan inilah yang disebut selaput dara (hymen). Kalau masih bingung, coba bayangkan ada sebuah gua yang di depannya terdapat sarang laba-laba. Terus, kamu mau masuk ke gua itu dan cuma bisa masuk kalau sudah merobek sarang laba-laba tersebut. Ibaratnya, gua itu adalah vagina, dan sarang laba-labanya adalah selaput dara.
Apa sih gunanya selaput dara? Pada bayi dan anak-anak, selaput dara berfungsi untuk melindungi vagina. Selaput dara diibaratkan seperti benteng yang menjaga vagina dari benda asing. Selaput dara menjaga vagina agar bebas dari kuman dan kotoran. Bentuk, ukuran, dan ketebalan selaput dara bervariasi. Ada yang berbentuk lingkaran, mengitari lubang vagina dengan satu lubang di tengahnya, disebut selaput dara annular. Yang kedua, selaput dara yang kelihatannya terbuka, hanya ada satu pita kecil di tengahnya, sehingga tampak memiliki dua lubang, disebut juga selaput dara septate. Dan yang ketiga adalah selaput dara yang memiliki banyak lubang kecil, disebut selaput dara cribriform.
Sebagian besar selaput dara tidak menutupi seluruh lubang vagina, agar cairan menstruasi tetap dapat keluar. Kalau ada selaput dara yang menutupi seluruh lubang vagina, harus dioperasi agar ketika menstruasi, tidak terasa sakit. Bayangkan saja kalau cairan menstruasi yang seharusnya keluar, ternyata tidak bisa keluar? Cewek yang memiliki selaput dara seperti itu, bisa saja meninggal karena kesakitan akibat cairan menstruasinya tidak bisa keluar.
Selaput dara bersifat elastis, tapi kurang elastis dibandingkan dengan dinding vagina, sehingga bila teregang melebihi kapasitas elastisitasnya, dapat robek dan mengeluarkan darah. Regangan pada selaput dara dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya trauma seperti jatuh dengan posisi kaki terbuka, jatuh terbentur benda keras, melakukan gerakan olahraga yang terlalu dipaksakan, dan tentu saja regangan akibat hubungan seksual (pada saat masuknya penis ke dalam vagina) yang terlalu kuat.
But, tidak setiap regangan dapat menyebabkan robekan, bahkan sering kali selaput dara baru robek dan mengeluarkan darah setelah beberapa kali hubungan seksual. Ada banyak kasus di mana selaput dara tidak robek dan tentu saja tidak berdarah, meskipun sudah beberapa kali berhubungan seks. Hal itu bisa disebabkan karena:
1. Selaput dara sangat elastis dan tebal, sehingga ketika berhubungan seksual tidak merasa sakit dan berdarah. Yang seperti ini baru akan berdarah pada saat proses melahirkan dan keluarnya kepala janin.
2. Si cewek sudah sangat siap berhubungan seks yang ditandai dengan pelumasan yang banyak.
3. Pembuluh darah di sekitar selaput daranya sangat sedikit, sehingga keluar darahnya pun sedikit dan tidak kelihatan.
4. Tidak ada selaput dara sama sekali. Kasus seperti ini jarang ditemukan, tetapi ada.
5. Sebab-sebab lain, misalnya selaput dara sudah robek karena kecelakaan, jatuh, olahraga berlebihan, dan masturbasi (kegiatan seksual dengan tangan atau alat-alat tertentu). Kemungkinan disebabkan selaput daranya terlalu rapuh atau mudah sobek.
Jadi, anggapan bahwa selaput dara yang robek akan mengeluarkan banyak darah adalah salah. Kenyataannya, banyak kok cewek yang masih perawan tapi tidak berdarah ketika berhubungan seks pertama kali. Pendarahan itu terjadi karena si cewek sangat tegang dan penetrasi dilakukan secara paksa. Jadi, ada luka di vagina. Jumlah darahnya pun tidak banyak, jadi jangan mengira bahwa seprai akan basah oleh darah ya. Selain itu, ada juga yang pendarahannya di dalam.
Satu-satunya cara yang paling afdal untuk mengetahui apakah seorang cewek masih perawan atau tidak adalah ke dokter kandungan. Dokter kandungan-lah yang akan memeriksa apakah selaput dara sudah robek atau belum. So, keperawanan tidak diukur dari berdarah atau tidaknya seorang cewek ketika pertama kali berhubungan seks. Atau, lebih baik kita kembalikan lagi ke arti kata perawan menurut KUBI. Intinya, seorang cewek dikatakan perawan atau tidak, jika sudah pernah melakukan hubungan seksual, yang ditandai dengan adanya penetrasi penis ke dalam vagina. Jadi, perawan atau tidaknya seorang cewek bukan ditandai dengan robek atau tidaknya selaput dara.
Lalu, bagaimana dengan rencana tes keperawanan untuk calon siswi SMA yang dikabarkan akan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Prabumulih? Berdasarkan update berita terakhir yang saya baca, Kadisdik Kota Prabumulih telah membantah akan melakukan tes keperawanan terhadap semua calon siswi SMA, melainkan hanya terhadap siswi yang terkena kasus penjualan gadis di bawah umur dan orang tuanya yang meminta diadakan tes keperawanan itu untuk membuktikan apakah anak gadisnya masih perawan atau tidak.
Benar atau tidaknya kabar itu, bagi saya pribadi, tes keperawanan itu tidak diperlukan. Seperti yang disebutkan di atas, robeknya selaput dara tak hanya disebabkan oleh hubungan seksual suka sama suka, bisa saja terjadi karena cidera akibat berolahraga terlalu keras, terjatuh dan terluka di bagian vital, atau pelecehan seksual yang tidak diinginkan. Lagipula, melakukan tes keperawanan terhadap seorang gadis yang belum menikah, tentu akan membuat risih. Jangankan yang masih gadis, wanita yang sudah menikah pun masih risih apabila organ intimnya diotak-atik. Rasanya tidak adil ya kalau seorang wanita harus membuktikan keperawanannya, sementara laki-laki tidak perlu membuktikan keperjakaannya? Bagaimana cara mengetes keperjakaan seorang laki-laki, coba? Kalaupun siswi tersebut sudah tidak perawan, apakah dia sudah tidak diperbolehkan bersekolah? Aih, aih, makin terasa tidak adilnya.
Soal tujuan tes keperawanan yang konon untuk menekan tindakan asusila, masih banyak cara lain yang bisa digunakan untuk membimbing muda-mudi kita agar terhindar dari tindakan asusila. Kerjasama orang tua, guru, dan masyarakat sekitar amat diperlukan agar muda-mudi terhindar dari seks bebas. Pendidikan agama dan moral harus lebih diperbanyak, agar para remaja memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tanpa harus dites-tes keperawanannya. Pendidikan seks dan reproduksi juga perlu dikenalkan oleh orang tua dan guru sejak anak-anak memasuki usia puber, agar mereka mengenali cara menjaga kehormatan mereka. Jadi, tak perlu menghamburkan dana APBD demi melakukan tes keperawanan, kan?
Referensi:
1. Anton Indracaya dan Ita Sembiring, Psiko Seksual: Menyingkap Tirai Seksualitas, 2004, Galang Press, Yogyakarta.
2. Chatarina Wahyutrini dan Wita Purbaningsih, Cewek Perawan vs Cowok Perjaka, Kompas, 06 September 2002.
3. Dono Baswardono, Perawan Tiga Detik, 2005, Galang Press, Yogyakarta.
4. Dr Evelyn Billings dan Dr Ann Wetmore, 2005, Metode Ovulasi Billings, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.
5. Dr. Naek L. Tobing, 1993, Seks, Masalah, dan Solusinya, Grafiti, Jakarta.
6. Dr. Shahid Athar, M.D., F.A.C.P., F.A.C.E., Bimbingan Seks bagi Kaum Muda Muslim, 2004, Pustaka Zahra, Jakarta.
7. Jalaluddin Rakhmat, 2000, Meraih Cinta Ilahi, Rosda, Bandung.
8. Kamus Umum Bahasa Indonesia