Kamis, 10 Juli 2014

Tes Keperawanan

Tes
Tes
Kalau menurut KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia), kehormatan itu artinya kesucian wanita. Sedangkan kata perawan (juga dalam KUBI), atau virgin (dalam bahasa Inggris), maupun bikr (dalam bahasa Arab), artinya seseorang yang belum pernah disentuh atau belum pernah menikah dan belum pernah berhubungan intim dengan lawan jenis maupun sesama jenis.
Kata perawan dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan kata gadis yang mempunyai arti yang sama. Namun jika diteliti, ternyata kata gadis tersebut berasal dari bahasa Arab yang berarti suci. Jadi, keperawanan adalah lambang kesucian dari seorang wanita. Dan kesuciannya tersebut, akan menentukan kehormatannya di mata Allah dan masyarakat. Jadi, memang tidak bisa disangkal kalau kehormatan kita diukur dari keperawanan.
Banyak yang beranggapan bahwa keperawanan ditandai dengan utuhnya selaput dara. Mitos yang berkembang mengatakan bahwa keperawanan seorang cewek bisa diketahui dari berdarah atau tidaknya cewek itu ketika berhubungan seks pertama kali. Katanya, keluarnya darah itu disebabkan oleh selaput dara yang robek. Sehingga, kalau kalau kita tidak berdarah ketika berhubungan seks pertama kali, berarti kita sudah tidak perawan. Seperti curhat seorang mbak kita di bawah ini:
Saya baru saja menikah. Ketika berhubungan seks pertama kali dengan suami, kok saya nggak berdarah ya? Padahal saya yakin belum pernah berhubungan seks dengan siapa pun. Saya berani bersumpah bahwa saya masih perawan. Tapi, suami saya nggak percaya. Ia menanyai saya macam-macam dan meragukan keperawanan saya. Hubungan kami jadi nggak enak, nggak seperti pengantin baru para umumnya. Kenapa ya saya nggak berdarah? Saya yakin bahwa saya masih perawan sebelum berhubungan seks dengan suami. (K, Jakarta)
Waaah cuma karena urusan darah saja, hubungan suami-istri bisa jadi renggang begitu. Padahal, anggapan itu tidak selalu benar, lho. Sebelum menjelaskan tentang kenapa Mbak K di atas tidak berdarah ketika malam pertama, padahal merasa masih perawan, kita cari tahu dulu apa sih selaput dara itu.
Jadi begini, vagina (alat kelamin) cewek berbentuk liang memanjang yang dindingnya terdiri atas lipatan-lipatan mukosa sehingga mampu meregang bahkan sampai dapat dilewati kepala bayi. (Subhanallah, ajaib banget ya?). Di mulut vagina tersebut, terdapat satu lapis mukosa yang agak tebal dan melingkari mulut vagina tersebut. Nah, lapisan inilah yang disebut selaput dara (hymen). Kalau masih bingung, coba bayangkan ada sebuah gua yang di depannya terdapat sarang laba-laba. Terus, kamu mau masuk ke gua itu dan cuma bisa masuk kalau sudah merobek sarang laba-laba tersebut. Ibaratnya, gua itu adalah vagina, dan sarang laba-labanya adalah selaput dara.
Apa sih gunanya selaput dara? Pada bayi dan anak-anak, selaput dara berfungsi untuk melindungi vagina. Selaput dara diibaratkan seperti benteng yang menjaga vagina dari benda asing. Selaput dara menjaga vagina agar bebas dari kuman dan kotoran. Bentuk, ukuran, dan ketebalan selaput dara bervariasi. Ada yang berbentuk lingkaran, mengitari lubang vagina dengan satu lubang di tengahnya, disebut selaput dara annular. Yang kedua, selaput dara yang kelihatannya terbuka, hanya ada satu pita kecil di tengahnya, sehingga tampak memiliki dua lubang, disebut juga selaput dara septate. Dan yang ketiga adalah selaput dara yang memiliki banyak lubang kecil, disebut selaput dara cribriform.
Sebagian besar selaput dara tidak menutupi seluruh lubang vagina, agar cairan menstruasi tetap dapat keluar. Kalau ada selaput dara yang menutupi seluruh lubang vagina, harus dioperasi agar ketika menstruasi, tidak terasa sakit. Bayangkan saja kalau cairan menstruasi yang seharusnya keluar, ternyata tidak bisa keluar? Cewek yang memiliki selaput dara seperti itu, bisa saja meninggal karena kesakitan akibat cairan menstruasinya tidak bisa keluar.
Selaput dara bersifat elastis, tapi kurang elastis dibandingkan dengan dinding vagina, sehingga bila teregang melebihi kapasitas elastisitasnya, dapat robek dan mengeluarkan darah. Regangan pada selaput dara dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya trauma seperti jatuh dengan posisi kaki terbuka, jatuh terbentur benda keras, melakukan gerakan olahraga yang terlalu dipaksakan, dan tentu saja regangan akibat hubungan seksual (pada saat masuknya penis ke dalam vagina) yang terlalu kuat.
But, tidak setiap regangan dapat menyebabkan robekan, bahkan sering kali selaput dara baru robek dan mengeluarkan darah setelah beberapa kali hubungan seksual. Ada banyak kasus di mana selaput dara tidak robek dan tentu saja tidak berdarah, meskipun sudah beberapa kali berhubungan seks. Hal itu bisa disebabkan karena:
1. Selaput dara sangat elastis dan tebal, sehingga ketika berhubungan seksual tidak merasa sakit dan berdarah. Yang seperti ini baru akan berdarah pada saat proses melahirkan dan keluarnya kepala janin.
2. Si cewek sudah sangat siap berhubungan seks yang ditandai dengan pelumasan yang banyak.
3. Pembuluh darah di sekitar selaput daranya sangat sedikit, sehingga keluar darahnya pun sedikit dan tidak kelihatan.
4. Tidak ada selaput dara sama sekali. Kasus seperti ini jarang ditemukan, tetapi ada.
5. Sebab-sebab lain, misalnya selaput dara sudah robek karena kecelakaan, jatuh, olahraga berlebihan, dan masturbasi (kegiatan seksual dengan tangan atau alat-alat tertentu). Kemungkinan disebabkan selaput daranya terlalu rapuh atau mudah sobek.
Jadi, anggapan bahwa selaput dara yang robek akan mengeluarkan banyak darah adalah salah. Kenyataannya, banyak kok cewek yang masih perawan tapi tidak berdarah ketika berhubungan seks pertama kali. Pendarahan itu terjadi karena si cewek sangat tegang dan penetrasi dilakukan secara paksa. Jadi, ada luka di vagina. Jumlah darahnya pun tidak banyak, jadi jangan mengira bahwa seprai akan basah oleh darah ya. Selain itu, ada juga yang pendarahannya di dalam.
Satu-satunya cara yang paling afdal untuk mengetahui apakah seorang cewek masih perawan atau tidak adalah ke dokter kandungan. Dokter kandungan-lah yang akan memeriksa apakah selaput dara sudah robek atau belum. So, keperawanan tidak diukur dari berdarah atau tidaknya seorang cewek ketika pertama kali berhubungan seks. Atau, lebih baik kita kembalikan lagi ke arti kata perawan menurut KUBI. Intinya, seorang cewek dikatakan perawan atau tidak, jika sudah pernah melakukan hubungan seksual, yang ditandai dengan adanya penetrasi penis ke dalam vagina. Jadi, perawan atau tidaknya seorang cewek bukan ditandai dengan robek atau tidaknya selaput dara.
Lalu, bagaimana dengan rencana tes keperawanan untuk calon siswi SMA yang dikabarkan akan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Prabumulih? Berdasarkan update berita terakhir yang saya baca, Kadisdik Kota Prabumulih telah membantah akan melakukan tes keperawanan terhadap semua calon siswi SMA, melainkan hanya terhadap siswi yang terkena kasus penjualan gadis di bawah umur dan orang tuanya yang meminta diadakan tes keperawanan itu untuk membuktikan apakah anak gadisnya masih perawan atau tidak.
Benar atau tidaknya kabar itu, bagi saya pribadi, tes keperawanan itu tidak diperlukan. Seperti yang disebutkan di atas, robeknya selaput dara tak hanya disebabkan oleh hubungan seksual suka sama suka, bisa saja terjadi karena cidera akibat berolahraga terlalu keras, terjatuh dan terluka di bagian vital, atau pelecehan seksual yang tidak diinginkan. Lagipula, melakukan tes keperawanan terhadap seorang gadis yang belum menikah, tentu akan membuat risih. Jangankan yang masih gadis, wanita yang sudah menikah pun masih risih apabila organ intimnya diotak-atik. Rasanya tidak adil ya kalau seorang wanita harus membuktikan keperawanannya, sementara laki-laki tidak perlu membuktikan keperjakaannya? Bagaimana cara mengetes keperjakaan seorang laki-laki, coba? Kalaupun siswi tersebut sudah tidak perawan, apakah dia sudah tidak diperbolehkan bersekolah? Aih, aih, makin terasa tidak adilnya.
Soal tujuan tes keperawanan yang konon untuk menekan tindakan asusila, masih banyak cara lain yang bisa digunakan untuk membimbing muda-mudi kita agar terhindar dari tindakan asusila. Kerjasama orang tua, guru, dan masyarakat sekitar amat diperlukan agar muda-mudi terhindar dari seks bebas. Pendidikan agama dan moral harus lebih diperbanyak, agar para remaja memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tanpa harus dites-tes keperawanannya. Pendidikan seks dan reproduksi juga perlu dikenalkan oleh orang tua dan guru sejak anak-anak memasuki usia puber, agar mereka mengenali cara menjaga kehormatan mereka. Jadi, tak perlu menghamburkan dana APBD demi melakukan tes keperawanan, kan?
Referensi:
1. Anton Indracaya dan Ita Sembiring, Psiko Seksual: Menyingkap Tirai Seksualitas, 2004, Galang Press, Yogyakarta.
2. Chatarina Wahyutrini dan Wita Purbaningsih, Cewek Perawan vs Cowok Perjaka, Kompas, 06 September 2002.
3. Dono Baswardono, Perawan Tiga Detik, 2005, Galang Press, Yogyakarta.
4. Dr Evelyn Billings dan Dr Ann Wetmore, 2005, Metode Ovulasi Billings, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.
5. Dr. Naek L. Tobing, 1993, Seks, Masalah, dan Solusinya, Grafiti, Jakarta.
6. Dr. Shahid Athar, M.D., F.A.C.P., F.A.C.E., Bimbingan Seks bagi Kaum Muda Muslim, 2004, Pustaka Zahra, Jakarta.
7. Jalaluddin Rakhmat, 2000, Meraih Cinta Ilahi, Rosda, Bandung.
8. Kamus Umum Bahasa Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar